Kamis, 22 Juli 2010

Bulan Sya'ban, Fadhilahnya dan Malam Nisfu Sya'ban sebagai Hari Raya Malaikat

Bulan ini dinamakan dengan Sya’ban karena bulan tersebut memiliki beberapa cabang kebaikan yang sangat banyak. Sya’ban diambil dari kata Asy-Syi’bi, yang berarti thariiqul jabali (jalan gunung atau jalan yang menanjak naik), yaitu jalan kebaikan.
Diriwayatkan dari Abi Ummah Al-Bahili ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya “Apabila bulan Sya’ban telah masuk (datang), sucikanlah jiwa Anda dan perbaikilah niat Anda dalam bulan itu”.
Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw berpuasa, sehingga kami mengatakan apakah beliau tidak berbuka, lalu beliau berbuka. Dan sehingga kami mengatakan kapan beliau tidak berpuasa, lalu beliau tidak berpuasa. Adalah beliau paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban (selain bulan Ramadhan).
Dalam riwayat An-Nasa’i dari hadits Usamah ra, ia berkata, “ya Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada suatu bulan dari bulan-bulan ini, seperti puasamu dalam bulan Sya’ban”. Beliau bersabda : “itu adalah sebuah bulan yang biasa dilalaikan manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Sya’ban adalah sebuah bulan, pada bulan itu amal-amal diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan seru sekalian alam. Maka aku suka kalau amalku diangkat, sementara aku dalam keadaan puasa”.

Di dalam Sahihain (Bukhari dan Muslim) diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata “Aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh sama sekali kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau puasa dalam suatu bulan yang lebih banyak daripada di bulan Sya’ban”. Dalam sebuah riwayat dikatakan : “Beliau berpuasa penuh di bulan Sya’ban”. Imam Muslim berkata : “Beliau berpuasa bulan Sya’ban, kecuali sedikit (yang tidak berpuasa)”. Riwayat ini menjelaskan riwayat pertama. Yang dimaksudkan dengan puasa sepenuh bulan adalah sebagian terbesarnya.
Dikatakan, bahwa sesungguhnya malaikat-malaikat di langit memiliki dua buah malam hari raya. Sebagaimana orang-orang Islam di bumi juga memiliki dua buah malam hari raya. Lalu hari raya malaikat adalah malam Bara’ah yaitu malam yaitu malam Nisfu Sya’ban dan malam Lailatul Qadar. Sedangkan hari raya orang-orang mukmin adalah Raya Fitri dan Adha. Karena itulah, maka malam Nisfu Sya’ban disebut juga sebagai malam hari raya malaikat.
As-Subki menjelaskan dalam kitab Tafsirnya : “Sesungguhnya malam Nisfu Sya’ban akan menghapus dosa setahun. Sedangkan malam Jum’at akan menghapus dosa seminggu, dan malam Lailatul Qadar menghapus dosa seumur hidup. Yakni, menghidupkan malam-malam tersebut dengan memperbanyak ibadah menjadi sebab dihapusnya dosa”. Malam Nisfu Sya’ban juga disebut sebagai malam-malam kehidupan. Karena adanya riwayat dari Al-Mundziri secara Marfu’ : “Barangsiapa yang menghidupkan dua malam Hari Raya dan malam Nisfu Sya’ban, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati-hati dalam kondisi mati”.
Malam Nisfu Sya’ban juga disebut sebagai malam syafa’at, karena Nabi saw meminta syafa’at kepada Allah swt pada malam ketiga belas buat ummatnya, lalu Allah memberinya sepertiga. Kemudian Nabi saw meminta lagi pada malam keempat belas, lalu Allah memberinya dua pertiga dan beliau meminta syafa’at buat ummatnya pada malam kelima belas, lalu Allah memberi seluruhnya, kecuali orang yang lari melepaskan diri dari Allah seperti larinya unta. Yakni, lari menjauh dari Allah dengan mengabdikan pada perbuatan durhaka.
Malam Nisfu Sya’ban juga disebut sebagai malam maghfirah karena Imam Ahmad meriwayatkan, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah melihat (mengamati) kepada hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Ia mengampuni kepada penghuni bumi, kecuali dua orang laki-laki, yaitu orang musyrik dan orang-orang pendendam”.
Juga disebut sebagai malam kemerdekaan, karena Ibunu Ishaq meriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah saw pernah mengutus aku ke rumah Aisyah ra untuk sebuah keperluan. Aku berkata kepada Aisyah, “cepatlah, karena aku telah meninggalkan Rasulullah saw menceritakan kepada mereka tentang malam Nisfu Sya’ban”. Aisyah berkata, “Ya Anas, silahkan duduk, akan aku ceritakan kepada Anda tentang malam Nisfu Sya’ban. Malam itu adalah malam bagianku dari Rasulullah saw. Beliau menghampiriku dan masuk dalam selimutku. Aku terbangun tengah malam dan aku tidak menemukan beliau lagi. Aku berkata, ‘mungkin beliau pergi kepada istri mudanya, Al-Qibthiyah’. Maka aku keluar melewati masjid lalu kakiku menyentuhnya sedang beliau bersabda, ‘Telah sujud kepada-Mu tubuh dan diriku dan telah beriman hatiku kepada-Mu. Ini tanganku dan apa yang aku petik atas diriku. Wahai Tuhan Yang Maha Agung, pada-Nya diharapkan setiap urusan-urusan besar, ampunilah dosa yang besar. Wajahku bersujud pada Dzat Yang Menciptakannya, yang membentuk rupa dan memberinya penglihatan”. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bersabda (berdoa) : “Ya Allah, anugerahilah aku hati yang bertakwa, suci dari syirik, terbebas dari kafir dan tidak pula celaka”. Kemudian beliau kembali bersujud dan aku mendengar beliau bersabda (berdoa) lagi : “Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian terhadap-Mu, sebagaimana Engkau memuji Dzat-Mu sendiri”. Aku berkata, sebagaimana yang dikatakan oleh saudaraku Dawud : ‘Aku membenamkan wajahku dalam debu (bersujud) untuk Sayyidku dengan yang sebenar-benarnya buat Sayyidku, agar Ia memberiku ampunan’.”
Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan aku berkata : “Demi bapak dan ibuku, sebagai tebusan Anda, Anda dalam sebuah lembah, dan aku juga dalam suatu lembah”. Beliau pun bersabda : “Ya Humaira’ (panggilan Aisyah), bukankah engkau mengetahui, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pada malam ini membebaskan manusia sebanyak bulu domba, kecuali enam golongan, yaitu peminum khamar, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pezina, orang yang bermusuhan, tukang pukul dan pengadu domba”.
Malam Nisfu Sya’ban juga disebut malam pembagian dan penentuan, karena ada riwayat dari Atha’ bin Yasar : “Ketika malam Nisfu Sya’ban, malaikat maut menghapus (mengundur jadwal) setiap orang yang akan mati dari satu Sya’ban ke Sya’ban berikutnya. Sementara seorang hamba pada saat itu menanam tanaman, melangsungkan pernikahan dan melakukan hubungan suami istri serta membangun rumah. Sedangkan perumpamaan, namanya telah disalin dalam daftar orang-orang mati. Dan malaikat maut tidak menunggu terhadap hal tersebut, kecuali bia ia diperintah, maka barulah ia mencabut ruhnya”.

Sumber : Mukasyafatul Qulub

.

.

.

ARTIKEL TERKAIT ADA DIBAWAH SPONSOR (DIBAWAH INI).

Artikel Terkait



4 komentar:

Willyo Alsyah P.Pratama mengatakan...

aku suka blog sobat...aku jadi banyak tahu tentang agama ku sendiri...lanjutkan bang..jgn bosan tuk menulis..krn menurut aku menulis itu ibadah..apalagi yg bermanfaat buat org banyak

RinTiK HuJaN mengatakan...

nice post sob,..
sifa bs belajar agama di sini., sukses sll sob..=))

blog-qucluk mengatakan...

mantep sob... follow balik yahhh

ria_adria mengatakan...

wah dapet pencerahan kesini ^^

Posting Komentar