Sabtu, 13 Maret 2010

Kolam Mandi Raja Majapahit Ditemukan

Kolam yang diduga kuat sebagai tempat mandi para raja ditemukan warga di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Situs bersejarah ini ditemukan Ruskan (63 tahun) di belakang rumahnya secara tak sengaja. Kakek ini sedang menggali tanah untuk produksi batu bata saat menemukan bangunan dari batu bata kuno.

Saat ini, Ruskan sudah berhasil membuka kolam hingga berukuran 7 X 6 meter dengan kedalaman hampir 3 meter. Tampak jelas jika bangunan ini merupakan bangunan istimewa dengan arsitektur mewah ala kerajaan.

Penemuan ini mendapat perhatian dari Sekretaris Direktur Jendral (Setditjen) Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 11 Maret 2010.

Plt Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Aris Soviani mengatakan, dari beberapa kali penelitian yang dilakukan pihaknya di lokasi temuan, didapatkan beberapa kesimpulan. Salah satunya, pihaknya menyakini bahwa bangunan kuno temuan Rukan itu adalah kolam pemandian.

"Kami sudah beberapa kali melakukan kajian awal atas bangunan yang sudah tampak," terang Aris Soviani.

Kolam itu ia sebut istimewa. Karena dilihat dari bangunan dan arsiteknya, kolam tersebut milik petinggi kerajaan. Menurutnya, bangunan itu mirip dengan kolam di Candi Tikus. ”Diduga kuat, kolam ini milik Raja Majapahit,” ujarnya.

Prosesi Nyepi di Mataram

Prosesi Nyepi 2010 untuk umat Hindu di Mataram, Nusa Tenggara Timur, dimulai di Pura Segara di pinggir pantai Ampenan, mulai Ahad (14 Maret 2010) mendatang.

Selanjutnya, pada Senin (15 Maret 2010) sore dilakukan kegiatan Tawur Kesanga yang dipusatkan di perempatan Kota Cakranegara. Sebelumnya, dilakukan pawai Ogoh-Ogoh yang akan diikuti 150 kelompok dimulai dari depan kantor Walikota Mataram dilepas oleh Ketua Parisadha Hindu Dharma Nusa Tenggara Barat Gede Renjana.

Kemudian mulai Selasa (16 Maret 2010) pagi pukul 6 waktu setempat dilakukan Catur Brata Nyepi di kediaman masing-masing.

Menurut Ketua Seksi Publikasi Peringatan Hari Besar Hindu Gede Putu Ariyadi, pada hari Nyepi selama sehari mereka akan berusaha mencari jati diri--Mulat Sariro, menyatukan diri dengan Sangkan Paraning Dumadi--, yaitu melakukan Amati Geni (tidak menyalakan api) yang berarti mengekang hawa nafsu, Amati Karya (tidak bekerja/melakukan semedi), Amati Lelanguan (tidak bergembira-bersenang), Amati Lelungan (tidak bepergian). ‘’Kesemuanya disertai upawasa,’’ katanya, Jum’at (12 Maret 2010) siang.

Upawasa berarti melakukan puasa tidak makan dan tidak tidur serta yang paling berat adalah Mona Brata yaitu tidak bicara.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, suasana Nyepi terasa di Kota Mataram yang sekitar 90.000 jiwa dari 300 ribu jiwa penduduknya adalah umat Hindu suku Bali. Mereka terutama berada di Kecamatan Cakranegara dan sebagian kecil di Kecamatan Sandu Baya dan Kecamatan Mataram.

Sumber : id.news.yahoo.com

.

.

.

ARTIKEL TERKAIT ADA DIBAWAH SPONSOR (DIBAWAH INI).

Artikel Terkait



1 komentar:

indah mengatakan...

bukannya kolam itu adalah kolam segaran?

Posting Komentar